OASE
Jumat, 10 Januari 2020
Puisi Oleh Ryan Rachman (Kedaulatan Rakyat, 5 Januari 2020)
DI TAMASEK AKU TERKENANG KAU #1
Di Tamasek aku terkenang kau
Nelayan yang tak lagi menebar jala
Ikan-ikan telah lama menghilang
Dirajam deru mesin kapal
Siluman ikan berkepala singa
Mungkin merasa mual
Hingga muntah tanpa jeda
Menatap orang-orang dari seberang
Asyik sadar terperangkap narsisus
Di Tamasek aku terkenang kau
Laut tak lagi punya ombak
Ombak tak lagi punya buih
Biuh tak lagi punya pantai
Angin bertiup tanpa daya
Mengirimkan puisi tanpa makna
Pada kelopak bugenvil dan hibiskus
Tentangku yang terkenang kau
Taman Merlion Marina Bay,
DI TAMASEK AKU TERKENANG KAU #2
-Kepada Usman Janatin
Di Tamasik aku terkenan kau
Tiba-tiba jantungku terguncang
Seperti dinamit yang meledak di tengah kota
Aroma mesiu membius nadiku
Meski bgi mereka
Kau adalah pecundang
Tentu saja bagiku
Kau adalah pahlawan
Tali yang menjerat leher
Sekadar menghentikan nafas
Hanya mematikan tubuh belaka
Namun tak pernah bisa
Membunuh gelora jiwamu
Di Tamasek aku terkenang kau
Laki-laki dari rahim tanah perwira
MALAM DI PARC SOVERIGN HOTEL
/I/
Malam-malam di sini terlalu letih
Jalanan menguap melupakan jejak peradaban
Aromanya diterkam redum lampu
Membawaku berlari mengenangmu
Perempuan yang menari dirinai rindu
Mungkin kau tengah menengadah
Memintai puisi di rimbunan buruj
Namun langit di kepalaku terlalu keruh
Oleh awan yang malas melepas hujan
Malam-malam di sini terlalu angkuh
Serangga berderik dalam bahasa diam
Padahal di getar sayapnya
Ada haru yang belum tersampaikan
/II/
Jarum arloji degulir menawarkan dini hari
Angin purba dari seberang laut berkeliaran
Mengukir pesan di gigir kaca jendela
Tentang asmara dahana yang selalu menyala
Entah mengapa di lingsir malam ini
Bayang bola matamu membuatku malas minum kopi
Rasa kantuk yang hendak mengunci netraku
Telah terperangkap di rumitnya labirin tak bertepi
Gerimis menaburkan gugusan senyummu
Sekelumit bergelayut di ujung rumputan beku
Sejumput sembunyi di reruntuhan daunan
Sisanya tenggelam di kedalaman hatiku
/III/
Tak ada pesta di setubuh malam.
Mi instan, air mineral dan sepupuh puisi pedas
Bangku-bangku berjajar di veranda
Terdiam dalam lengan jalan St Albert
Selengang jalan di halaman rumahmu
Di sini terlalu asing untuk menyemai rindu
Sedangkan air matamu berulang kalu memanggilku
DI TAMASEK AKU TERKENANG KAU #1
Di Tamasek aku terkenang kau
Nelayan yang tak lagi menebar jala
Ikan-ikan telah lama menghilang
Dirajam deru mesin kapal
Siluman ikan berkepala singa
Mungkin merasa mual
Hingga muntah tanpa jeda
Menatap orang-orang dari seberang
Asyik sadar terperangkap narsisus
Di Tamasek aku terkenang kau
Laut tak lagi punya ombak
Ombak tak lagi punya buih
Biuh tak lagi punya pantai
Angin bertiup tanpa daya
Mengirimkan puisi tanpa makna
Pada kelopak bugenvil dan hibiskus
Tentangku yang terkenang kau
Taman Merlion Marina Bay,
Singapura, Desember 2019
DI TAMASEK AKU TERKENANG KAU #2
-Kepada Usman Janatin
Di Tamasik aku terkenan kau
Tiba-tiba jantungku terguncang
Seperti dinamit yang meledak di tengah kota
Aroma mesiu membius nadiku
Meski bgi mereka
Kau adalah pecundang
Tentu saja bagiku
Kau adalah pahlawan
Tali yang menjerat leher
Sekadar menghentikan nafas
Hanya mematikan tubuh belaka
Namun tak pernah bisa
Membunuh gelora jiwamu
Di Tamasek aku terkenang kau
Laki-laki dari rahim tanah perwira
Changi, Singapura, Desember 2019
MALAM DI PARC SOVERIGN HOTEL
/I/
Malam-malam di sini terlalu letih
Jalanan menguap melupakan jejak peradaban
Aromanya diterkam redum lampu
Membawaku berlari mengenangmu
Perempuan yang menari dirinai rindu
Mungkin kau tengah menengadah
Memintai puisi di rimbunan buruj
Namun langit di kepalaku terlalu keruh
Oleh awan yang malas melepas hujan
Malam-malam di sini terlalu angkuh
Serangga berderik dalam bahasa diam
Padahal di getar sayapnya
Ada haru yang belum tersampaikan
/II/
Jarum arloji degulir menawarkan dini hari
Angin purba dari seberang laut berkeliaran
Mengukir pesan di gigir kaca jendela
Tentang asmara dahana yang selalu menyala
Entah mengapa di lingsir malam ini
Bayang bola matamu membuatku malas minum kopi
Rasa kantuk yang hendak mengunci netraku
Telah terperangkap di rumitnya labirin tak bertepi
Gerimis menaburkan gugusan senyummu
Sekelumit bergelayut di ujung rumputan beku
Sejumput sembunyi di reruntuhan daunan
Sisanya tenggelam di kedalaman hatiku
/III/
Tak ada pesta di setubuh malam.
Mi instan, air mineral dan sepupuh puisi pedas
Bangku-bangku berjajar di veranda
Terdiam dalam lengan jalan St Albert
Selengang jalan di halaman rumahmu
Di sini terlalu asing untuk menyemai rindu
Sedangkan air matamu berulang kalu memanggilku
Singapura, Desember 2019
*) Ryan Rachman, lahir di Kebumen 1985. Berkhidmat di Komunitas Teater Sastra Perwira (Katasapa) Purbalingga. Tinggal di kaki Gunung Slamet RT 18 RW 9 Dusun Bukung, Desa Bumisari, Kecamatan Bojongsari, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah.